Jurnalisme Damai

Published September 12, 2013 by Novita Sari Putri Piliang

Jurnalis dan Resolusi Konflik Agama

Oleh: Novita Sari Putri

 

Meliput peristiwa konflik (khususnya fakta kekerasan), pada dasarnya merupakan hal yang biasa bagi jurnalis. Biasanya salah satu kriteria untuk mengukur apakah suatu peristiwa layak diberitakan atau tidak adalah kandungan unsur konflik dari suatu fakta. Semakin keras fakta konflik itu, semakin tinggi nilai beritanya. Rumus seperti ini, masih banyak dianut di kalangan jurnalis. Akibatnya ketika meliput suatu konflik, orientasi liputan dominan terbingkai dalam apa yang disebut jurnalisme perang (war journalism). Liputan jurnalis lebih berorientasi pada peristiwa kekerasannya itu sendiri. Misalnya pada arena atau tempat dimana konflik itu terjadi. Atau seperti berapa jumlah korban yang mati, penderitaan fisik yang dialami korban, rumah yang hancur atau harta benda yang ludes terbakar. Sehingga, tulisan yang dihasilkan hanya menceritakan bagaimana drama pembantaian itu berlangsung, dan menggambarkan kesadisan aksi pembantaian tersebut. Hasilnya  berita yang terfokus pada konflik, tidak membuat berita dengan fokus penderitaan korban.

 Dengan kata lain, lebih mengeksploitasi the visible effect of violence, dibanding korban-korban yang tidak tampak. Akibatnya liputan konflik secara tidak sadar, lewat fakta media yang dihadirkan publik, ikut menggiring publik untuk memihak pada salah satu pihak yang bertikai. Ini terjadi karena kebanyakan jurnalis dalam meliput konflik selalu menggunakan kacamata “kita-mereka” secara hitam putih. “Kita” adalah yang benar, dan “mereka” adalah yang salah.

Secara teoritik, ada tiga posisi jurnalis atau wartawan ketika memberitakan konflik. Pertama, wartawan sebagai pendorong, issue intensifier dimana fakta media yang dihasilkan memiliki sumbangan untuk mempertajam konflik dalam realitas sosiologis. Dengan kata lain, wartawan melakukan blow up realitas sehingga seluruh dimensi isu menjadi transparan. Kedua, wartawan berperan melakukan conflict deminisher, dimana fakta media yang ditulis menenggelamkan suatu issue atau konflik. Secara sengaja wartawan meniadakan isu tersebut, terutama bila menyangkut kepentingan institusi media di mana ia bekerja. Entah kepentingan ideologis atau pragmatis-ekonomis. Ketiga, wartawan juga bisa berfungsi sebagai pengarah conflict resolution, yakni ketika fakta media yang dimunculkan, mampu memberikan “pencerahan” bagi pihak-pihak yang bertikai untuk mengarahkan penyelesaian konflik secara damai.

Terkadang yang sering terabaikan adalah bagaimana jurnalis atau wartawan mengenali peran mereka selama  menjalankan profesi jurnalistik di wilayah konflik. Apakah berita-berita mereka tergolong berposisi sebagai pengobar konflik, menenggelamkan fakta konflik atau berperan mendorong bagi proses resolusi konflik.Yang jelas, jurnalis diharapkan mampu memberikan perspektif baru kepada pembaca tentang peran lain yang dapat dilakukan jurnalis yang bertugas di wilayah konflik.

Ketika menulis berita konflik yang bersifat hot news, wartawan misalnya kerapkali abai terhadap korban-korban sipil yang terus menerus bertambah setiap kali terjadi konflik. Berbagai upaya resolusi konflik yang telah dilakukan, juga gagal dihadirkan sebagai latar, sehingga berita-berita spot news terkesan kering. Tidak membangun nuansa pentingnya menyudahi konflik yang berdarah-darah dan memprovokasi pentingnya perdamaian.

Jurnalis biasanya lebih tertarik pada dinamika dan ekses konflik. Aspek magnitude (besaran) seperti jumlah korban yang tewas atau terluka, harta benda yang binasa lebih menjadi perhatian peliput. Kemudian suasana konflik, seperti jalannya pertempuran, sadisnya pembantaian, sistem persenjataan. Adapun upaya-upaya damai atau resolusi kurang menarik bagi jurnalis. Alasannya, publik yang menjadi khalayak sasaran media massa tak suka berita-berita tentang perundingan dan perdamaian.

Maka tak bisa dipungkiri bahwa konflik merupakan jenis liputan yang ‘seksi’ bagi jurnalis. Sebab aspek layak beritanya (magnitude, prominence, proximity, human interest, timeliness dan significance/impact) biasanya ada dan bernilai tinggi. Pasar pun menginginkan sajian-sajian semacam ini. Pertanyaan kemudian muncul, apakah jurnalis hanya akan melihat aspek ‘keseksian’ berita saja serta permintaan pasar? Bagaimana dengan nestapa banyak manusia yang sebagian perempuan dan anak-anak tak berdosa yang merupakan korban konflik? Apakah akan dikesampingkan saja? Rasanya tidak tepat dan tidak etis kalau sampai jurnalis menginginkan keberlanjutan dan keparahan konflik hanya karena mereka mendambakan objek liputan yang laku-jual.

 

Resolusi Konflik

            Robbin, Stoner dan Freeman memandang konflik berdasarkan dua sudut pandang, yaitu tradisional dan kontemporer (Myers, 1993:234). Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Pandangan ini sangat menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. Seringkali konflik dikaitkan dengan kemarahan, agresivitas, dan pertentangan baik secara fisik maupun dengan kata-kata kasar. Apabila telah terjadi konflik, pasti akan menimbulkan sikap emosi dari tiap orang di kelompok itu sehingga akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, menurut pandangan tradisional, konflik haruslah dihindari. Lain hal dengan pandangan kontemporer, konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. Namun, yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik, tetapi bagaimana menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi maupun antarkelompok. Dalam pandangan ini, konflik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di dalam organisasi. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif, melainkan harus dijadikan hal konstruktif.

            Terkait konflik agama di Indonesia, baik pandangan tradisional maupun kontemporer itu, konflik agama bisa menjadi suatu hal yang wajar, namun juga hal yang harus dihindari. Tergantung bagaimana media menyajikan dan masyarakat sebagai sasaran media massa menanggapi hal itu. Itu semua juga tergantung pada proses peliputan si jurnalis.

            Menurut Hasudungan Sirait, mantan redaktur majalah D&R, media massa kita umumnya punya sejumlah kelemahan manakala mewartakan konflik. Ada yang gemar memelintir berita karena memang punya conflict of interest. Jadi posisinya partisan. Kalau kantor redaksi mereka itu sampai diduduki oleh kelompok yang merasa dirugikan itu mudah dimengerti. Ada yang pewartaannya cetek. Dalam arti simplistik, reduksionis, fragmentatif (sepotong-potong), kurang menjaring fakta dan lebih mengedepankan talking news. Ditambah lagi, sarat dengan opini. Jenis seperti ini yang paling jamak.

            Kelemahan lain yang merupakan penyakit umum adalah sifat yang raksioner. Yaitu mewartakan hanya jika ada peristiwa. Contohnya : pers hanya menulis tentang konflik antar agama kalau sudah terjadi pembantaian. Yang digarisbawahi dalam model reportase yang reaksioner ini adalah aspek 5W+1H kejadian baru itu, dengan mengabaikan latar historis konflik itu dan tahap resolusinya. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Konflik berkelanjutan. Wartawan seakan mempunyai niat untuk mengobarkan konflik itu dan mem-blow-up konflik. Maka, pada kondisi seperti ini, tidaklah berlebihan jika mengatakan seorang jurnalis justru bisa menjadi pembunuh kedua setelah korban tewas di tangan penjahat kemanusiaan.

            Seperti yang kerap dikritik Johan Galtung, jurnalis biasanya mereportase konflik serupa dengan melaporkan pertandingan sepakbola. Dalam reportase pertandingan sepakbola yang lazimnya digarisbawahi adalah hasil (kalah-menang atau imbang), skor, pencetak gol, jalannya pertandingan, momen-momen yang menarik (termasuk yang mendebarkan), dan terkadang, animo penonton serta jumlah mereka. Reportase akan menarik kalau dibumbui dengan komentar di sana sini.

            Jurnalis harusnya mengenali perspektif  lain yang digunakan lewat berita-berita yang telah mereka hasilkan selama bertugas di wilayah konflik dan mengenali peran dirinya sebagai wartawan selama melakukan liputan-liputan di daerah konflik. Jurnalis harus dapat merefleksikan tentang peran yang selama ini dilakukan dan dapat mengambil peran baru dalam melakukan liputan di wilayah konflik untuk menunjang proses resolusi konflik secara damai. Dan menegakan peran / posisi wartawan dalam meliput di wilayah konflik.

Jurnalis juga harus memperhatikan sampai kepada masalah-masalah teknis yang dihadapi di lapangan ketika melakukan liputan konflik, mulai dari perencanaan liputan, penentuan angle pemberitaan, penentuan narasumber, peliputan di lapangan sampai penulisan hasil reportase. Sehingga, jurnalis dapat mengambil peran lain agar fakta media yang dihasilkan dapat menyumbang untuk proses resolusi konflik.

Lalu apa sebenarnya yang disumbangkan jurnalisme pada situasi konflik agama? Apakah seorang jurnalis harus melepaskan keyakinan atau imannya dahulu ketika meliput dan memberitakan konflik antar dua agama agar berita yang lahir dari hasil liputannya tidak tendensius dan memihak? Berbagai pertanyaan akan muncul terkait hal ini. Akhirnya, jurnalis terjebak ke dalam konflik internal di dalam kaumnya sendiri.

Yang jelas, seorang jurnalis tidak perlu kafir sejenak untuk menghasilkan berita terkait konflik agama. Yang perlu dilakukan adalah, jurnalis harus menggeser perspektifnya Imagedalam melihat suatu konflik. Harus digeser dan dibuang habis-habisan prinsip atau pikiran yang memaknakan bahwa yang terlibat konflik itu hanya dua pihak. Hal tersebut jelas tidak benar, karena sejatinya konflik selalu melibatkan banyak pihak.

Konflik agama bisa menempatkan peran penting jurnalis jika jurnalis mampu memberikan sumbangan penyelesaian konflik. Karena seyogyanya, jurnalis memang harus memberi perhatian yang sama besar juga pada proses penyelesaian atau resolusi konflik. Di sini lah peran jurnalis sesungguhnya. Kendati pun memang proses ini sering memakan waktu, terseok-seok dan menjemukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: